
PATI, Pojokutara.com – Selama ini, banyak masyarakat di luaran sana yang beranggapan bahwa olahan Bandeng Presto merupakan oleh-oleh khas dari Kota Semarang. Memang tidak salah, mengingat disana banyak ditemukan toko-toko yang menjajakan olahan berbahan dasar ikan bandeng tersebut.
Akan tetapi yang jarang diketahui bahwa Bandeng Presto sejatinya adalah olahan khas dari Kabupaten Pati, tepatnya di Kecamatan Juwana yang terkenal dengan potensi perikanan yang luar biasa besar.
Bandeng Presto sendiri merupakan olahan dari ikan bandeng tanpa duri yang mampu bertahan selama berhari-hari di kondisi beku dan 2 hari di tempat biasa.
Disebuah gang sempit di tepi jalan raya Juwana-Wedarijaksa, tepatnya di Desa Dukutalit, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, tersembunyi tempat produksi olahan ikan segar milik Siti Sufaati.
Setiap harinya, belasan ibu rumah tangga membantu Sufaati berkumpul di suatu gang sempit, menyulap duri-duri ikan menjadi lunak dengan tekstur khas olahan seafood. Ada yang membersihkan ikan dari bau amis, marinasi ikan agar lebih segar, hingga mencabut duri ikan, dan kemudian dikemas dalam plastik didalam mesin pendingin.
Sufaati menceritakan, kisah perjalanannya dimulai tahun 1999. Saat itu, ia bersama sang suami yang berjualan ikan bandeng segar merasa sedikit mendapatkan keuntungan dari hasil berdagang.
Keduanya kemudian mendapatkan ide untuk mengolah ikan bandeng agar memiliki nilai ekonomis tinggi. Alhasil muncullah ide untuk melunakkan duri ikan yang kini dikenal dengan nama Bandeng Presto.
“Saya dulu bersama bapak hanya jualan ikan biasa di pasar. Tahun 1999 mulai mencoba membuat olahan ikan duri lunak atau Bandeng Presto,” ungkapnya, Kamis 28 Mei 2026.
Lambat laun, usahanya semakin berkembang dan terus tumbuh. Permasalahannya, olahan Bandeng Presto mudah ditiru dan banyak disaingi oleh pengusaha lain.
Untuk bertahan dan meluaskan ekspansi dan merambah pasar ke kota-kota besar, Sufaati kemudian memberanikan diri untuk megambil batuan keuangan dari BRI melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) di tahun 2021 lalu.
Dari yang semula hanya Rp25 juta sampai Rp100 juta. Modal tersebut ia gunakan untuk membeli peralatan tambahan seperti alat untuk melunakan duri hingga mesin pendingin supaya ikan tetap dalam keadaaan segar meskipun dikirim ke lokasi yang jauh.
Usahanya kini meningkat. Pasarannya tak hanya dari wilayah Pati dan sekitarnya, melainkan sudah merambah ke Semarang bahkan ke Ibukota Jakarta.
“Pernah pinjam bank dari BRI sampai Rp100 juta untuk memperluas pemasaran dan menambah produksi,” imbuh dia.
Dalam sehari ia mampu mengolah tak kurang 200 kilogram Bandeng Presto. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp14 ribu isi 2, pembeli sudah bisa menikmati lezatnya oleh-oleh khas Pati ini.
“Satu kemasan isi dua ikan, harganya Rp 14 ribu. Pembeli paling banyak sudah pesan dulu, biasanya mereka untuk oleh-oleh atau di warung-warung makan,” imbuhnya.
Selain bantuan KUR, Sufaati juga mengakui mendapatkan pendampingan usaha dari BRI cabang Juwana. Sehingga usahanya saat ini menjadi salah satu kluster UMKM binaan BRI yang naik kelas dan tumbuh pesat.
Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama, menambahkan bahwa perbankan berani memberikan bantuan modal KUR sebagai bekal permodalan agar para pelaku usaha bisa terus naik kelas.
Selain itu, BRI melalui mantri juga memfasilitasi UMKM Bandeng Presto pada acara pameran atau bazar, serta memberikan penyuluhan pembayaran secara non tunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
“Anggota klaster kami sediakan metode pembayaran QRIS. Serta kami ajak mengikuti bazar yang diikuti oleh BRI,” ungkap Eka.
Dekan Fakultas Ekonomi Bisis pada Universitas Safin Pati (USP), Dian Imami Intoha SE., MM, menyebut bantuan pinjaman keuangan yang diberikan oleh BRI kepada para pelaku usaha ini sebagai bentuk kehadiran negara dalam menopang ekonomi kerakyatan.
Secara spesifik, Dian mengatakan adanya inklusi keuangan ini dapat menjaga iklim ekonomi mikro tetap berjalan. Alhasil efektivitasnya di lapangan bisa dilihat dari semakin banyaknya para pelaku UMKM yang memanfaatkan pinjaman KUR dari BRI.
“Jadi ini memang cukup positif jika dilihat dari sisi ekonomi, yang mana kehadiran pinjaman keuangan menopang dan mempertahankan sektor ekonomi kecil,” ungkapnya. (ARIF – Pojokutara.com)
