Site icon Pojok Utara

Bertahan di Tengah Modernisasi, Kisah Jamu Tradisional dari Lopait bisa Go National

MERACIK: Salah satu produsen jamu Lopait, Sugiyati, sedang membuat ramuan jamu sebelum dipasarkan

SALATIGA, Pojokutara.com – “Jamune mas, jamu”! Begitulah yang setiap harinya didengar warga di Desa Lopait, Kecamatan Tuntang, Kota Salatiga, Jawa Tengah. Puluhan suara penjual jamu tradisional saling bersahutan menawarkan dagangannya dari jalan setapak desa hingga ke jalan raya provinsi ruas Semarang-Solo. Ada yang menggendong tumpukan botok jamu, mengayuh sepeda, hingga menarik gas sepeda motor.

Mereka sedang tidak sekedar bersaing menjemput rezeki. Melainkan mempertahankan kualitas minuman tradisonal buatan rumah tangga yang dikenal dengan Jamu Lopait. Desa Lopait sendiri dikenal sebagai sentra industri jamu tradisional yang masih menggunakan cara lama di tengah hiruk pikuk kota.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Pemerintah Desa (Pemdes) dan BUMDes setempat, masih terdapat puluhan pelaku industri yang masih bertahan hingga kini.

“Disini memang terkenal dengan jamu, yang mana kaum perempuan disini banyak yang masih berjualan jamu. Ada yang digendong jalan kaki, pakai sepeda, hingga sepeda motor,” ungkap Yamsiha, Plt direktur BUMDes Karya Mandiri Sejahtera.

BUMDes selaku badan usaha milik desa juga memfasilitasi pengembangan jamu agar bisa tetap bertahan dan dipertahankan ke generasi selanjutnya. Salah satu caranya adalah dengan bantuan pendampingan dari lembaga keuangan yang dalam hal ini adalah BRI Kanwil Semarang.

Yamsiha mengatakan, sejak masuknya BRI di tahun 2024 banyak manfaat yang diterima oleh para pedagang jamu, seperti pelatihan pengemasan hingga marketing agar tetap laku setiap hari.

Berkat jamu ini juga, Desa Lopait bisa dikenal dalam skala nasional berkat keikutsertaan Desa Lopait sebagai Desa Binaan BRI dengan nama Desa BRILian. Yang mana pada tahun 2025 kemarin berhasil masuk nominasi 15 besar tingkat nasional.

“Alhamdulillah tahun lalu kami masuk nominasi dan mendapatkan penghargaan dari BRI sebagai Desa BRILian dengan bantuan keuangan sebesar Rp10 juta,” tambahnya.

Salah satu pedagang jamu tradisional Lopait yang masih bertahan hingga kini adalah Sugiyati. Nenek berusia lebih dari 50 tahun tersebut, setiap harinya berkeliling dari desa ke desa menjajakan jamu tradisional yang oleh masyarakat desa dipercaya mampu menjaga ketahanan tubuh.

Mulai dari kunir asem, kunyit, jahe, kencur, hingga temulawak dipadu dengan ramuan khusus yang diseduh mendidih di atas tungku tradisional dari dapur rumah yang terus mengepul. Setelahnya, jamu didiamkan sebelum dimasukan ke dalam botol-botol kemasan satu liter. Dengan harga yang relatif murah mulai Rp3 ribu per gelasnya, dagangan yang dibawa Sugiyati selalu habis sesaat sebelum adzan maghrib berkumandang.

“Kami masih mempertahankan cara tradisional, dibuat di rumah mulai sore atau malam, pagi nanti keliling jualan,” jelasnya.

Sebagai salah satu desa binaan dari BRI, mewakili para pelaku usaha jamu yang lain, Sugiyati berharap ke depan ada bantuan seperti gerobak jualan yang menjadi identitas Jamu Lopait. Termasuk adanya plang papan nama atau papan jalan yang menunjukan bahwa Desa Lopait adalah desa industri jamu yang terkenal berkat bantuan pembinaan dari BRI.

PRESTASI: Penghargaan Desa BRILian kepada Desa Lopait dari BRI pada 2025

Merespon hal ini, Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama, menyadari masih adanya kekurangan di Lopait sebagai Desa BRILian. Sehingga ke depan, BRI Semarang berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan bantuan agar para penjual jamu memiliki identitas yang sama.

“Kalau Semarang itu Desa Lopait yang masuk 40 besar nasional. Kemudian disaring menjadi 15 besar di tingkat nasional hanya Lopait yang masuk. Jadi memang ini menjadi kekurangan kita karena seharusnya memang ada tugu identitas di desa yang menunjukan bahwa ini adalah desa binaan kami. Jadi mungkin nanti selain bantuan keuangan yang pernah kita berikan, bantuan pemberian tugu identitas nanti kita wacanakan,” kata Eka, Kamis 7 Mei 2026.

Pihaknya percaya, penambahan tugu identitas ini nantinya akan memudahkan siapa saja yang melintas untuk tahu bahwa Lopait adalah Desa BRILian yang berkembang dengan bantuan BRI sebagai lembaga keuangan. Termasuk membawa UMKM jamu Lopait bisa naik kelas dengan tetap mempertahankan cita rasa dan sentuhan tradisional.

Dihubungi terpisah, Dian Imami Mashuri, SE., MM, selaku pakar ekonomi dari Universitas Safin Pati (USP) menyebut apa yang diberikan oleh BRI sebagai bentuk kepedulian lembaga perbankan sebagai perusahaan negara yang hadir untuk masyarakat khususnya pelaku UMKM.

Menurutnya, bank memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas usaha UMKM agar tetap berjalan dan eksis seiring kemajuan zaman yang menuju ke arah digitalisasi.

“Ini sangat bagus ketika perbankan hadir di tengah-tengah masyarakat, kemudian memberikan bantuan keuangan untuk pengembangan UMKM tentunya bisa menghidupkan perekonomian,” pungkasnya. (ARIF – Pojokutara.com)

Exit mobile version