Site icon Pojok Utara

Cerita Mbak Ermawati, Mewarisi Tungku Tradisional dengan Sentuhan Digitalisasi

PENUH KEHATI-HATIAN: Ermawati memasak serabi di atas tungku tradisional untuk calon pembeli

SEMARANG, Pojokutara.com – Dari sekian banyak lapak UMKM serabi Ngampin yang berjejer di kawasan wisata Ambarawa, turut ruas jalan provinsi yang menghubungan Semarang ke Yogyakarta, perhatian tertuju pada lapak nomor 25 milik Bu Warniyati.

Pasalnya diatas lapak tepat di depan tungku tradisonal, terdapat sang anak bernama Ermawati Astuti (30) yang dengan sabar membolak-balik adonan serabi. Sesekali, Ermawati memasukan kayu bakar untuk menjaga tungku tetap hidup, sejalan dengan menghidupi keluarga dari tungku serabi.

Kehadrian Ermawati di lapak milik Warniyati bukan hanya sedekar membantu ekonomi keluarga agar tetap hidup. Lebih daripada itu, kehadiranya sekaligus menghidupkan kembali resep rahasia milik sang ibu dalam tangkup-tangkup serabi yang legit.

Erma menyadari harus ada generasi yang meneruskan produksi jajanan tradisional ini agar tidak hilang dimakan zaman. Dengan harga yang relatif murah dan pengunjung yang tak pernah sepi, ia bertekad untuk melanjutkan usaha sang ibu.

“Kalau saya disini (berjualan) baru, karena hanya membantu ibu yang sudah puluhan tahun disini. Ibu kan sudah sepuh (tua), jadi nanti saya yang meneruskan,” ungkapnya saat menceritakan tekadnya untuk melanjutkan usaha.

Sejak awal 2026, dirinya secara bergantian berjualan serabi di kawasan Kelurahan Ngampin demi memenuhi kebutuhan keluarga. Dari sini, ia membantu perekonomian keluarga bahkan sampai mampu menyekolahkan sang anak.

Kehadiran Ermawati di lapak milik ibunya juga membantu melayani transaksi non tunai yang sering dilakukan oleh pelancong yang tidak memegang uang cash. Bagaimana tidak, sang ibu Warniyati yang sudah berusia hampir 60 tahun tidak bisa menggunakan berbagai aplikasi digital termasuk QRIS saat melayani transaksi non tunai.

“Kalau ibu sedirian nanti pembeli yang menggunakan QRIS tidak bisa, karena ibu sudah tua tidak bisa menggunakan QRIS. Makanya kalau saya ikut disini ikut membantu pembeli juga,” imbuh dia.

Perpaduan jajanan tradisional dengan digitalisasi pembayaran inilah yang membuat UMKM Ngampin semakin naik kelas. Ditambah dengan sentuhan dari BRI Kanwil Semarang di awal 2026 ini yang sangat membantu dalam mempertahankan cita rasa khas serabi yang menjadi kuliner di area wisata Ambarawa.

Alhasil, daganganya kini mulai dikenal dengan bantuan plang papan nama yang diberikan oleh BRI. Selain itu, terdapat batuan lain seperti tungku masak, piringan, hingga kaos identitas anggita paguyuban.

“Ini kemarin ada bantuan dari BRI. Saya disini meneruskan usaha ibu yang sudah sepuh. Kalau tidak diteruskan eman-eman (sayang) karena disini cukup ramai, lumayan untuk tambah-tambah anak sekolah,” ungkapnya.

KERJA SAMA: Ermawati bersama sang ibu Warniyati, bahu-membahu memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan Serabi Ngampin di tepi Jalan Semarang-Yogyakarta

Masuknya BRI ke UMKM miliknya ini juga dirasa oleh Erna sangat membantu. Dari yang sebelumnya dikelola ibunya hanya melayani transaksi secara tunai, kini setelah berganti ke dirinya semakin banyak pembeli yang melakukan trasaksi dengan non tunai.

“Ada juga QRIS dari BRI. Kalau sebelumnya ibu kan tidak punya HP, jadi tidak bisa pakai QRIS. Kemudian setelah saya ikut jualan, sedikit-sedikit bisa dialihkan ke digital,” tambah dia.

Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama menambahkan, adanya peralihan generasi dari penjual serabi ini juga sangat medukung penggunaan QRIS oleh para pedagang.

Pihaknya menyadari adanya kesulitan penggunaan teknologi oleh para pedagang karena usia yang sudah lanjut. Sehingga dengan adanya pewarisan ini akan sangat membantu UMKM Ngampil bisa naik kelas ke arah digitalisasi.

“Kita ada pemberdayaan edukasi atau pelatihan terkait penggunaan transaksi digital dalam hal ini penggunaan QRIS. Transaksi saat ini banyak masyarakat jarang menggunakan uang tunai. Kemudian dari sisi penjual mereka kesulitan pengembalian, kan satu porsinya hanya Rp7 ribu kalau uangnya besar mereka sulit mencari kembalian. Selain itu juga menghindarkan dari peredaran uang palsu,” kata Eka, Sabtu 2 Mei 2026.

Dihubungi terpisah, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Ekobis) Universitas Safin Pati (USP) Dian Imami Mashuri, SE., MM, menyebut adanya digitalisasi ini sangat membantu para pelaku UMKM bisa naik kelas.

Dari transaksi tunai yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh para pedagang yang mayoritas ibu-ibu, kini denga kehadiran QRIS siapapun bisa menggunakan layanan keuangan ini.

“Secara ekonomi digitalisasi sangat membantu sekali , kalau biasanya transaksi dilakukan secara manual saat ini mulai beralih dengan QRIS ini sangat luar biasa sekali memudahkan masyarakat,” kata Dian.

Ia juga mengapresiasi kiprah dari Bank BRI yang selama ini dikenal aktif dalam memberikan pendampingan kepada para pelaku usaha kecil atau UMKM. Sehingga industri kecil mampu berkembang megikuti perkembangan zaman, tanpa harus takut tergerus era globalisasi da digitalisasi. (ARIF – Pojokutara.com)

Exit mobile version