Site icon Pojok Utara

Mulai dari Rp 10 Juta, Lelaki Kreatif Ini Ubah Limbah Plastik jadi Omset Ratusan Juta

KREATIF: Syahrial Anam saat menunjukkan tas berbahan dasar limbah plastik

PATI, Pojokutara.com – Limbah plastik saat ini menjadi momok menakutkan yang mengancam kehidupan masyarakat. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup RI, menunjukan di akhir 2025 lalu setiap harinya masyarakat Indonesia memproduksi sekitar 142.167 ton sampah. Jika tak ditangani secara maksimal, hal ini menjadi ancaman serius bagi manusia yang hidup berdampingan dengan sampah.

Jumlah ini tentu sangat wajar jika melihat penggunaan plastik dalam kehidupan manusia sehari-hari. Mulai dari pasar hingga industri, semuanya memerlukan plastik untuk memudahkan pengemasan.

Kondisi ini diperparah dengan adanya trend marketplace atau berjualan secara online. Paket yang dikirim dengan balutan plastik bewarna hitam berlapis-lapis tentunya semakin menambah jumlah sampah.

Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh pria asal Juwana Pati bernama Syahrial Anam (40). Berkat keterampilannya, pada 2019 lalu ia mulai menyulap sampah plastik tak terpakai menjadi barang-barang dengan nilai ekonomi tinggi.

Pada awalnya karena keterbatasan modal dan rekan kerja, pria yang akrab disapa Syam ini hanya bertindak sebagai supplier tas dari plastik milik rekan bisnisnya. Lambat laun karena merasa ilmu yang dikuasai sudah cukup, Syam akhirnya memberanikan diri untuk berbisnis sendiri.

Dengan tempat seadanya di halaman depan rumah berlokasi di tepi jalan raya Juwana-Todanan, Desa Karangrejo, Kecamatan Juwana Pati, Syam memulai bisnis kecilnya dengan nama Syams Handicraft Indonesia.

Namun ia menceritakan, tidak semua plastik bisa didaur ulang dan dimanfaatkan menjadi tali-tali panjang sebelum diolah menjadi kerajinan yang menarik. Beberapa jenis plastik yang sering digunakan antara lain bioplastik, plastik eco, kantong kresek, plastik bening, dan plastik spunbond.

“Berawal dari limbah plastik, saya mencoba merubahnya menjadi anyaman tas. Awalnya hanya menjadi supliyer, beli lalu jual lagi. Kemudian baru berani produksi saat banyak permintaan, kita kolaborasi dengan pihak yang bisa memproduksi. Alhamdulillah saat ini bisa berbisnis sendiri,” ungkapnya, Sabtu 9 Mei 2026.

Namun Syam menyadari, ilmu dan relasi saja tidak cukup untuk mengembangkan bisnis agar semakin besar. Ia akhirnya meminjam modal uang dari Bank BRI melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp10 juta.

Modal ini kemudian ia putar dengan membeli sampah-sampah plastik yang diperoleh dari Kota Pati hingga Kudus. Plastik kemudian diolah oleh rekan bisnisnya dengan alat khusus menjadi tali-tali Panjang yang siap dianyam menjadi aneka ragam tas warna-warni.

“Dulu memang kendalanya di permodalan. Akhirnya kami beranikan pinjam bank, dulu kalau tidak salah Rp10 juta. Tapi yang namanya bisnis pasti perlu banyak modal, kemudian kita tambah lagi,” imbuh dia.

Adanya Syams Handicraft ini tentu menjadi bukti jika keterampilan yang dipadukan dengan kreativitas dan jaringan relasi yang baik, mampu mengubah barang tak berguna menjadi barang berharga dengan nilai ekonomis tinggi.

Kehadiran bantuan KUR dari BRI ini menjadi bukti bahwa inklusi keuangan sangat diperlukan dalam mendorong produk-produk UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) untuk bisa naik kelas.

Terbukti dari Syams Handicraft yang awalnya hanya berbisnis dengan oranglain, kini bisa memiliki usaha industri sendiri dengan memanfaatkan limbah.

ILUSTRASI: Pabrik pengolahan limbah plastik

Pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ini dinilai oleh Ekonom Universitas Safin Pati (USP) Dian Imami Intoha SE., MM, menjadi salah satu solusi untuk mengurai sampah khususnya limbah industri dan rumah tangga.

“Tentunya ini sangat bagus untuk pertumbuhan ekonomi. Jika kita melihat sampah yang dihasilkan manusia tentu sangat besar sehingga harus ada inovasi untuk merubahnya menjadi barang-barang yang berharga dan dapat digunakan oleh masyarakat,” kata dia.

Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama mengatakan, pemberian bantuan keuangan melalui program KUR untuk pelaku usaha kecil ini ditujukan agar UMKM bisa naik kelas.

“UMKM ini harus maju dan harus ada produk unggulanya,” ungkapnya.

Syarat-syarat untuk mendapatkan bantuan KUR pun cukup mudah. meliputi Warga Negara Indonesia (WNI), memiliki usaha produktif yang sudah berjalan minimal 6 bulan, dan tidak sedang menerima kredit komersil dari bank lain.

Sedangkan untuk administrasi umum, calon debitur perlu mempersiapkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Surat Izin Berusaha (NIB), Surat Keterangan Usaha (SKU) dan NPWP.

Sementara itu dilansir dari situs resmi BRI, sepanjang tahun 2025 BRI telah meyalurkan KUR sebesar Rp178 triliun untuk 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. (ARIF – Pojokutara.com)

Exit mobile version