Site icon Pojok Utara

Mulai dari Rp20 Juta, Kisah Pengusaha Batik Bakaran Sri Sarni Pertahankan Warisan Budaya yang Diakui UNESCO

MEMAMERKAN: Andre, owner Batik Sri Sarni memamerkan produksi batik khas Bakaran Pati

PATI, Pojokutara.com – Di tepi jalan raya Juwana-Tayu di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, berdiri sebuah showroom milik Andreas. Bukan showroom biasa, ternyata itu adalah tempat puluhan bahkan ratusan kain baik khas Kabupaten Pati yang dikenal dengan nama Batik Bakaran.

Andreas memberi nama produksinya Batik Sri Sarni, yang diambil dari nama leluhurnya. Secara konsisten sejak 2011, Batik Sri Sarni terus mempertahankan keaslian Batik Bakaran dengan tidak mencampurnya dengan printing.

Konsistensi inilah yang membuat batiknya banyak diminati oleh masyarakat. Di tengah modernisasi proses produksi dalam membatik, keuletan dari tangan-tangan terampil masih dipertahankan.

Ia memaklumi, batik sebagai ciri khas pakaian adat masyarakat Jawa Tengah memiliki makna dan simbol tersendiri bagi pemakainya. Sehingga menurut Andre, mempertahankan keaslian batik tulis menjadi kunci dalam menjaga marwah pakaian adat Jawa.

“Penjualan disini awal 2026 kita dapat pesanan itu 2000 potong. Itu batik tulis semua, kami tidak memproduksi batik printing, tapi kami full batik tulis. Karena kami adalah Batik Bakaran yang asli dari Desa Bakaran. Kita terdaftar sejak 2011 sudah turun temurun,” kata Andre saat dikunjungi pada Minggu 17 Mei 2026.

Andre menambahkan, mempertahankan batik tulis berarti menjaga Batik Bakaran yang sejak tahun 2021 diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai salah satu warisan budaya tak benda. Meski diakui UNESCO sebagai warisan budaya nasional secara umum, Batik Bakaran secara spesifik terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kemendikbud.

Tentu saja dalam proses perjalananya, Andre menceritakan bukan hal mudah. Tantangan dari tantangan ia hadapi dalam menghadapi persaingan pasar, termasuk kemunculan pengusaha batik lain yang mengaku batik tulis asli.

“Kalau batik tulis asli itu hanya di Desa Bakaran sesuai namanya yaitu Batik Bakaran khas Pati. Terkadang kan ada batik printing, tapi ngakunya tulis asli,” imbuh dia.

Tak hanya itu saja, tantangan permodalan juga pernah ia alami. Beruntung berkat adaya pijaman Kredit Usata Rakyat (KUR) dari BRI yang ia ajukan pada 2019 berhasil meningkatkan prodksinya, sekaligus mempertahankan keaslian batik.

Andre secara khusus mengakui, dari pinjaman Rp20 juta sampai Rp300 juta berhasil membantu dalam hal permodalan, termasuk dalam produksi dan pemasaran. Meskipun secara matematika jumlah tersebut tergolong rendah, tanpa bantuan KUR ia merasa usahanya bukanlah apa-apa.

“Kalau KUR dulu ambilmya cumin Rp20 juta, terakhir kemarin Rp300 juta sangat membantu sekali. Uang itu kami gunakan untuk ekspansi, modal untuk bahan. Sebetulnya Rp300 juta kita bandingkan untuk operasional itu hanya satu dua bulan, tetapi sangat membantu sekali,” kata Andre saat menceritakan pernah meminjam KUR lewat BRI yang berhasil membuat usahanya naik kelas.

MENGAWASI: Andre saat melihat proses produksi Batik Sri Sarni

Perpaduan antara budaya dan UMKM ini juga disebut oleh Ekonom Universitas Safin Pati (USP) Dian Imami Intoha SE., MM, sangat bagus untuk mendongkrak perekonomian warga melalui sektor industri rumah tangga.

Cara penguatan ekonomi atau mendapatkan penghasilan, kata Dian, tidak harus lewat bekerja kantoran ataupun berdagang. Pemanfaatan kearifan lokal seperti batik, ini dirasa menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur bisa dijadikan cuan.

“Tentu kalau lihat dari segi ekonomi ternyata aspek budaya bisa berdampak pada perekonomian masyarakat. Kita lihat adanya pagelaran kesenian, termasuk ini ada batik yang bahkan tidak hanya di Pati saja, bisa mendatangkan uang,” ujar ekonom tersebut.

Termasuk kehadiran perbankan dalam mendukung para pelaku UMKM, Dian menambahkan bisa terus membantu pelaku usaha naik kelas dengan membantu permodalan para pengusaha yang ingin berkembang

Adanya KUR ini juga sebagai bentuk nyata kehadiran perusahaan perbankan dalam menghidupkan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar bisa naik kelas. Hal itu disampaikan oleh Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama.

Saat dihubungi wartawan, Eka mengatakan pinjaman KUR memang dikhususkan untuk para pelaku usaha dengan masa usaha minimal 6 bulan disertai Nomor Induk Berusaha (NIB). pemberian bantuan keuangan melalui program KUR untuk pelaku usaha kecil ini ditujukan agar UMKM bisa naik kelas.

“UMKM ini harus maju dan harus ada produk unggulannya. Kami di BRI ada dua kriteria dalam memberikan KUR. Yang pertama untuk KUR mikro itu nominalnya Rp10 juta sampai Rp100 juta. Kemudian ada KUR kecil antara Rp100 juta sampai Rp500 juta,” ungkapnya.

Syarat-syarat untuk mendapatkan bantuan KUR pun cukup mudah. meliputi Warga Negara Indonesia (WNI), memiliki usaha produktif yang sudah berjalan minimal 6 bulan, dan tidak sedang menerima kredit komersil dari bank lain.

Sedangkan untuk administrasi umum, calon debitur perlu mempersiapkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Surat Izin Berusaha (NIB), Surat Keterangan Usaha (SKU) dan NPWP.

Sementara itu dilansir dari situs resmi BRI, sepanjang tahun 2025 BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp178 triliun untuk 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. (ARIF – Pojokutara.com)

Exit mobile version