Site icon Pojok Utara

Pemilik Toko Asal Pati Ini Selamat dari Jerat Rentenir Usai Ambil KUR BRI

BERPOSE: Roni pasca melayani pembeli di warung kecil miliknya

PATI, Pojokutara.com – Selama bertahun-tahun, Mohammad Roni (38) warga Desa Pesagi, Kecamatan Kayen hidup bersama istri dan seorang anak penuh dengan kesederhanaan tanpa hingar-bingar glamor bagaikan orang kota. Bagaimana tidak, Roni yang hanya seorang petani dan sang istri bekerja sebagai tukang jahit cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tengah tuntutan ekonomi dan harga bahan pokok yang semakin naik, membuat kebutuhan akan uang juga semakin tinggi. Pendapatan Roni tentu sangat kurang meskipun sang istri telah membantunya mencari nafkah.

Untuk mencukupi kebutuhan, ia terpaksa meminjam uang dari seorang rentenir dengan bunga yang cukup tinggi. Meskipun tinggi, tak ada pilihan lain bagi dirinya meskipun harus gali lubang tutup lubang setiap bulannya.

Pinjaman yang jumlahnya Rp1 juta hanya ia terima Rp900 ribu. Sistem pembayarannya, ia harus mencicil sebesar Rp250 ribu dengan tenor atau jangka waktu selama 5 bulan. Terlihat kejam dan mencekik, namun hanya ini yang bisa ia lakukan karena meminjam uang ke rentenir tanpa dikenai agunan dan proses yang cepat hanya bermodalkan Kartu Tanda Pengenal atau KTP.

“Dulu itu sering pinjam uang ke Bank Plecit (Rentenir) untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, makan, jajan anak. Mau bagaimana lagi, tanpa agunan proses cepat. Tapi ya itu, bunganya cukup tinggi. Terpaksa juga sebenarnya,” ujarnya saat menceritakan kisah perjalanan hidupnya, Jumat 5 Juni 2026.

Namun semua itu berubah saat ia bersama sang istri memutuskan meminjam bantuan keuangan lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI pada 2021 lalu saat covid-19 melanda. Teras kecil di depan rumah ia sulap menjadi warung yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga seperti sabun, shampo, gas, air isi ulang, dan yang lain.

Selang enam bulan di tengah kesulitan ekonomi dan bayang-bayang bunga rentenir yang tinggi. Roni kemudian memutuskan untuk meminjam KUR sebesar Rp10 juta untuk melengkapi isi warung.

Siapa sangka dari pinjaman ini, warungnya kemudian mampu bertahan hingga saat ini mencukupi kebutuhan keluarga sampai menyekolahkan sang anak yang saat ini berusia 12 tahun.

“Saya fikir-fikir kalau pinjam rentenir terus tak ada kemajuan. Jadi tahun 2021 pas covid, saya buka warung. Awalnya kecil, cumin diberitahu saudara kalau punya usaha kecil bisa mengajukan KUR, akhirnya saya ambil untuk menambah isi warung,” imbuh Roni.

Kini, warungnya tersebut tak hanya penyelamat ekonomi keluarga. Lebih daripada itu, warung milik Roni berhasil membebaskan dari jerat rentenir dengan bunga yang terlampau tinggi.

“Alhamdulillah masih bisa bertahan sampai sekarang. Saat ini pun masih punya bank (kredit) yang belum lunas. Insyaallah tahun ini lunas. Terimakasih BRI” kata Roni menyampaikan rasa terima kasihnya atas KUR BRI.

Dikreasikan oleh AI/Arif Febriyanto

Bantuan KUR ini disebut oleh Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama sebagai sarana dalam mendongkrak usaha kecil agar terus berkembang serta menghindarkan masyarakat dari hutang-hutang dengan bunga tinggi.

“Syaratnya memang harus punya usaha, kalau tidak punya ya BRI tidak bisa memberi pinjaman. Namanya saja kan KUR, U nya itu kan usaha, jadi wajib punya usaha minimal 6 bulan,” tegas Eka, mejelaskan syarat wajib pemohon KUR BRI.

Selain syarat utama tersebut, pihak BRI juga memberikan keringanan lain dengan membebaskan agunan bagi peminjam jika pinjaman super mikro maksimal Rp25 juta. Sehingga untuk memastikan kelayakan dari calon pemohon, pihaknya akan terlebih dulu melakukan survey ke tempat usaha untuk memastikan pemohon benar-benar bisa melunasi kredit.

Adanya dukungan dari lembaga keuangan seperti BRI ini juga didukung oleh pakar ekonomi sekaligus Dekan Fakultas Ekoomi dan Bisnis (Ekobis) dari Universitas Safin Pati (USP) Dian Imami Mashuri, SE., MM.

Ia mengatakan bantuan keuangan BRI berupa KUR dengan bunga rendah dan tempo pelunasan yang longgar sebagai bukti nyata kehadiran BRI untuk membantu pengembangan sektor ekonomi menengah ke bawah agar naik kelas.

“Ini adalah pendorong atau stimulus biar UMKM tidak hanya fokus pada kapasitas produksi atau biar operasionalnya lancar. Tetapi lebih daripada itu, ini bisa mendukung agar UMKM disana bisa naik kelas,” kata dia saat dimintai keterangan wartawan.

Dari kasus Roni, Dian percaya bisa memotivasi para pelaku UMKM yang lain untuk berani mengambil pinjaman bank ketimbang meminjam dari rentenir atau koperasi sejenis karena bunga yang terlampau tinggi. (ARIF – Pojokutara.com)

Exit mobile version