Site icon Pojok Utara

Pilih Ambil KUR Ketimbang Pinjol dan Judol, Kisah Inspiratif Penjual Kelapa Asal Pati Selamat dari Jerat Hutang

BEKERJA: Istri Juriyanto saat mengupas kulit kelapa yang hendak dijual ke pasar

PATI, Pojokutara.com – Di tengah perkembangan teknologi yang semakin maju, pilihan untuk mendapatkan uang secara instan menjadi alternatif bagi sebagian masyarakat. Satu fenomena yang saat ini marak terjadi adalah pinjaman online atau pinjol yang semakin mudah didapatkan.

Bagaimana tidak, hanya bermodalkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), tanpa jaminan, tanpa aguan, seseorang sudah bisa mendapatkan bantuan keuangan hanya lewat telefon genggam dan jaringan internet.

Hanya saja tanpa disadari, hal ini adalah awal mula petaka dimulai. Juriyanto mengkisahkan teman-temanya di Desa Karangsari, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati yang tergila-gila dengan pinjol maupun judol alias judi online untuk mendapatkan uang tanpa jerih payah.

Himpitan ekonomi yang semakin mendesak, ditambah sulitnya mecari pekerjaan disebut mejadi penyebab utama banyanya masyarakat khususnya kaum pria yang lebih memilih Judol maupun Pinjol.

Akibatnya, banyak diantara mereka yang berujung pada hancurnya rumah tangga. Sebab bukanya mendapatkan uang sebagaimaa iming-iming Judol dan Pinjol, tetangga Juri justru jatuh miskin dengan hutang yag terus mekar berbunga.

“Di desa asal saya di Karangsari itu banyak teman-teman saya yang cerai dengan istrinya karena banyak hutang. Gara-garanya ya ikut judol atau ada yang ambil pinjol,” ungkap Juri saat menceritakan kisah di kampung halamanya, Jumat 12 Juni 2026.

Namun Juri enggan terjerumus ke lubang sama. Alih-alih mendapatkan uang dengan cara instan, ia lebih memilih megembangkan usahanya berjualan kelapa di pasar.

Meskipun banyak rekan yang mengajak, ia sama sekali tak bergeming. Juri justru memilih ambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI dengan proses yang jelas daripada harus ambil pinjaman secara online yang belum terbukti sisi positifnya.

“Banyak teman-teman yang mengajak ikut pinajaman online, tapi saya tolak karena tidak jelas. Sejak 2022 saya lebih memilih pinjam KUR BRI untuk mengembangkan usaha saya berjualan kelapa di pasar,” imbuhnya.

Hasilnya kini pun kontras berbeda. Juri yang semakin sukses bahkan mampu memiliki rumah sendiri, berbanding terbalik dengan teman-temannya yang terjerat hutang pinjol denga bunga yang terus mekar.

Dikreasikan oleh AI/Arif Febriyanto

Dari sisi ekonomi, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat untuk bisa bertahan di tengah desakan ekonomi yang dibarengi dengan kemudahan memperoleh uang dengan berbagai cara

“Ini menjadi persoalan ekonomi bagi suatu keluarga. Karea pinjol ataupun judol meawarkan kemudahan mendapatkan uang secara instan. Namun dibalik itu tanpa disadari dampak negatifnya sangat luar biasa,” ujar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis pada Universitas Safin Pati, Dian Imami Intoha, SE. MM.

Namun dengan hadirnya KUR BRI yang memberikan akses pinjam uang dengan proses yang jelas dan mekanisme yang jelas, disebut menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin memiliki usaha sendiri.

“Tentunya adanya KUR ini bisa dimanfaatkan. Proses dan mekanismenya kan jelas, ada akadnya juga yang ditandatangi bersama. Meskipun dalam prosesnya harus ada survey dan lain sebagainya, tapi inilah yang menjadi perbedaanya,” tambahnya.

penyaluran KUR BRI diarahkan untuk mendorong pelaku usaha berkembang seiring dengan meningkatnya akses permodalan. Hal ini tercermin dari kemampuan debitur dalam memperluas skala usaha dan meningkatkan kapasitas bisnisnya.

Capaian tersebut terlihat dari jumlah debitur yang berhasil naik kelas, yakni sebanyak 307 ribu debitur atau mencapai 31,96% dari target 962 ribu debitur. Di sisi lain, jangkauan KUR BRI terhadap rumah tangga juga menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Hingga April 2026, sekitar 19 dari setiap 100 rumah tangga telah mengakses fasilitas KUR BRI, meningkat dibandingkan 18 rumah tangga pada 2025 dan 17 rumah tangga pada 2024. (ARIF – Pojokutara.com)

Exit mobile version