Site icon Pojok Utara

Warung Tradisional Bayar Pakai QRIS, Kisah Penjual Sego Tewel Layani Transaksi Non Tunai

TRANSAKSI: Seorang pembeli Sego Tewel Mbah Rasiah besiap membayar lewat non tunai

PATI, Pojokutara.com – Setiap siang menjelang sore hingga malam hari, sejumlah sepeda motor dan mobil tampak terparkir di depan sebuah warung makan milik mbah Rasiah, yang berada di tepi jalan Tambakromo-Kayen, turut Desa Tambakromo, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati.

Mereka datang tak hanya dari tetangga kecamatan, melainkan dari penjuru daerah untuk menikmati sepiring nasi tewel. Yup, nasi tewel merupakan khas dari Kabupaten Pati berbahan dasar Nangka muda dengan kuah santan yang menggugah selera.

Menariknya, sajian disajikan diatas daun jati yang semakin menambah cita rasa masakan dipadukan dengan tempe goreng hangat dan segarnya es teh manis. Harganya pun relatif sangat murah, hanya Rp5 ribu per porsi, pengunjung sudah dapat menikmati sajian khas dari Pati Selatan ini.

Tak hanya masakan biasa, sego tewel ternyata telah melegenda sejak tahun 70-an yang menjadi kuliner khas Kabupaten Pati selama puluhan tahun.

Mbah Rasiah menceritakan, warung makan miliknya merupakan generasi keempat yang diwarisi secara turun temurun. Seyap harinya, ratusan porsi sego tewel ludes terjual dengan omset jutaan rupiah.

“Ini generasi keempat warisan dari nenek. Nasi tewel ini khas daerah Tambakromo, harganya murah Rp5 ribu per porsi. Buka mulai jam 14.00 WIB sampai habis malam hari, kadang sebelum maghrib sudah habis,” kata Mbah Rasiah menceritakan, Selasa 26 Mei 2026.

Meskipun menjajakan menu tradisional, warung Mbah Rasiah tak amu ketinggalan zaman dengan bertransformasi ke sistem digital dalam hal pembayaran.

Tampak di meja kasir, barcode QRIS BRI tampak terpampang bersiap menerima scan dari pengunjung lewat aplikasi BRIMO. Diceritakan, banyaknya pembeli yang mencapai ratusan setiap harinya membuat Mbah Rasiah kesulitan mencarikan uang kembalian.

Bekerjasama dengan BRI cabang Tambakromo, pihaknya kemudian diberikan barcode untuk mempermudah metode pembayaran sejak tahun 2024 lalu.

“Kayaknya mulai tahun 2024, yang mengurusi anak saya. Karena kan kadang ada yang tanya, bisa lewat QRIS? Lalu dikasih dari BRI. Alhamdulillah sangat membantu, kadang kalau tidak ada kembalian bisa lewat QRIS,” imbuh Mbah Rasiah.

Penggunaan QRIS ini ia lakukan juga dalam rangka menghindari peredaran uang palsu. Terlebih transaksi yang mencapai ratusan setiap harinya cukup sulit membedakan antara uang asli atau palsu.

Dikreasikan oleh AI/Arif Febriyanto

Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama menambahkan, keberadaan QRIS di warung-warung kecil ini dalam rangka mendekatkan kemudahan layanan perbankan melalui sistem digital.

Terlebih di era globalisasi seperti saat ini, kata Eka, masyarakat membutuhkan pelayanan yang serba cepat dan digital. Sehingga BRI kemudian hadir untuk memberikan kemudahan transaksi lewat non tunai.

Eka mengakui terdapat peningkatan pengguna QRIS setiap tahunnya, terutama di pusat perbelanjaan, restoran, tempat wisata, dan juga warung-warung makan yang mulai bertransformasi menggunakan QRIS.

“QRIS hadir sebagai solusi pembayaran digital yang memungkinkan transaksi tanpa uang tunai, memberikan kenyamanan lebih bagi pengguna dengan transaksi cepat dan aman,” kata Eka saat dimintai keterangan wartawan.

Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh BRI per Februari 2026, transaksi dengan QRIS BRI telah mencapai Rp2.141 triliun yang semakin menegaskan tagline Satu Bank Untuk Semua.

Hal ini selaras dengan tujuan pemerintah dalam menuju tranformasi ke arah digital denga Bank Indonesia (BI) yang menjadi leading sector.

Dilansir dari investor.id, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengumumkan bahwa jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah menembus angka 60 juta orang. Pencapaian ini sekaligus menandai terpenuhinya target pengguna yang ditetapkan bank sentral untuk sepanjang tahun 2026.

Sebagai catatan, target QRIS BI pada 2026 mencakup 60 juta pengguna, 45 juta merchant, 17 miliar transaksi, serta perluasan kerja sama lintas negara (cross-border) di delapan negara.

“Dan sekarang berapa QRIS digunakan? 60 juta pengguna QRIS dan QRIS sudah digunakan di mana saja. Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang,” ujar Perry dalam soft launching Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Perry menambahkan, BI akan terus memperluas jangkauan QRIS ke sejumlah negara mitra strategis. Dalam waktu dekat, implementasi QRIS cross-border ditargetkan masuk ke pasar China, Korea Selatan, dan India. Tak hanya itu, BI tengah menjajaki integrasi QRIS dengan Kartu Nusuk di Arab Saudi untuk memudahkan transaksi jemaah Indonesia. (ARIF – Pojokutara.com)

Exit mobile version