
PATI, Pojokutara.com – Di tepi jalan raya Juwana-Tayu Kabupaten Pati, tepatnya di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, sejumlah perempuan tampak berhati-hati saat mengayunkan canting kedalam kain warna-warni. Mereka ternyata tidak sedang menggambar, melainkan membatik menghasilkan kain batik yang diberi nama Batik Sri Sarni.
Sejak pukul 07.00 tangan-tangan terampil ini memproduksi puluhan kain batik. Dengan penuh kesabaran dan ketelitian, ibu-ibi ini mampu menggoreskan lekukan Batik Sri Sarni khas Bakaran, Pati.
Sang owner Andreas, telah berhasil memberdayakan para ibu rumah tangga di desanya memiliki keterampilan membatik. Dengan upah yang bervariasi antara Rp100 ribu sampai Rp150 ribu, puluhan ibu-ibu tampak cekatan memproduksi Batik Bakaran khas Kabupaten Pati.
“Kami dibantu puluhan ibu rumah tangga. Ada yang membatik, kemudian memberi warna pada kain, sampai proses penjemuran. Jadi kita juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk menambah penghasilan,” ungkapnya.
Keterlibatan para ibu rumah tangga ini bukan tanpa alasan. Setiap bulannya, Andre mendapat banyak pesanan dari berbagai daerah di penjuru Indonesia. Mulai dari Kalimantan hingga Papua, memesan produksi kain batik produksinya untuk dijadikan seragam kantor.
Tak hanya di dalam negeri, Batik Sri Sarni ternyata juga telah go international, seperti ke pasar asia hingga eropa. Corak batik yang khas dari Bakaran Pati membuat batik ini menjadi symbol dan identitas tersendiri dari Kabupaten Pati.
“Kami sudah sampai ke seluruh nusantara, sampai ke luar negeri juga. Termasuk membuatkan seragam-seragam ke Papua. Di awal tahun 2026 ini kami mendapat pesanan 2000 potong kain batik. Ada juga yang ke Kalimantan Tengah untuk seragam kantor,” kata Andre.
Andre mngakui, kesuksesan usahanya ini tak lepas dari bantuan permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dari pinjaman Rp20 juta, ia berhasil memperbanyak produksi dan memperluas pemasaran.
Pinjaman ini sekaligus menyelamatkan bisnis atau usaha yang ia warisi dari sang ayah sejak 2011 itu. Beruntung berkat KUR BRI, usahanya berhasil bangkit dan terus eksis bertahan sampai saat ini.
“Memang penuh perjuangan karena ini usaha warisan bapak turun-temurun. Kalau KUR dulu ambilnya cuman Rp20 juta, terakhir kemarin Rp300 juta sangat membantu sekali. Uang itu kami gunakan untuk ekspansi, modal untuk bahan. Sebetulnya Rp300 juta kita bandingkan untuk operasional itu hanya satu dua bulan, tetapi sangat membantu sekali,” kata Andre saat menceritakan pernah meminjam KUR lewat BRI yang berhasil membuat usahanya naik kelas.

KUR ini sendiri merupakan salah satu program BRI untuk menjaga stabulitas para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Disampaikan oleh Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama, BRI secara khusus memberikan bantuan KUR dengan bunga ringan bahkan tanpa agunan bagi para pengusaha yang ingin berkembang.
“Jadi kami itu ada pinjaman mikro nominalnya Rp10 juta sampai Rp100 juta. Kemudian ada KUR kecil antara Rp100 juta sampai Rp500 juta. Kami juga memberikan bunga ringan, supaya apa, supaya pengusaha ini punya kesempatan untuk berkembang,” ungkap Eka saat dihubungi, Kamis 21 Mei 2026.
Dekan Fakultas Ekonomi Bisis pada Universitas Safin Pati (USP), Dian Imami Intoha SE., MM, menyebut bantuan pinjaman keuangan yang diberikan oleh BRI kepada para pelaku usaha ini sebagai bentuk kehadiran negara dalam menopang ekonomi kerakyatan.
Secara spesifik, Dian mengatakan adanya inklusi keuangan ini dapat menjaga iklim ekonomi mikro tetap berjalan. Alhasil efektivitasnya di lapangan bisa dilihat dari semakin banyaknya para pelaku UMKM yang memanfaatkan pinjaman KUR dari BRI.
“Jadi ini memang cukup positif jika dilihat dari sisi ekonomi, yang mana kehadiran pinjaman keuangan menopang dan mempertahankan sektor ekonomi kecil,” ungkapnya.
Dilansir dari situs resmi BRI yang diakses pada Jumat 22 Mei 2026, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp47,09 triliun pada kuartal I 2026. Penyaluran tersebut telah menjangkau sekitar 947.000 nasabah UMKM, dengan sektor pertanian menjadi penerima dominan yang mencapai Rp19,8 triliun atau sekitar 42% dari total penyaluran. Penyaluran ini merupakan bagian dari target total alokasi KUR BRI untuk tahun 2026 yang ditetapkan sebesar Rp180 triliun. (ARIF – Pojokutara.com)




