Kisah Serabi Ngampin Ambarawa, dari Tungku Tradisional hingga Digitalisasi Pembayaran

TRANSAKSI : Salah satu pedagang serabi di Paguyuban UMKM Ngampin sedang melayani pembeli, baru-baru ini.

SEMARANG, Pojokutara.com – Aroma kayu bakar yang merayap di udara segar ruas jalan Semarang-Yogyakarta, tepatnya di Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah menarik perhatian para pengguna jalan yang melintas.

Bukan kayu bakar biasa, melainkan semerbak aroma daun pandan dipadu dengan santan kelapa yang diolah menjadi serabi di atas tungku, berjejer di sepanjang jalan tepat di depan kantor kelurahan setempat.

Bacaan Lainnya

Tak hanya satu tungku, melainkan ada 92 tungku serabi yang berjejer membentuk suatu paguyuban yang diberi nama Paguyuban UMKM Ngampin. Setiap tungku menyajikan masakan yang sama, yakni serabi dengan harga Rp7 ribu per porsi.

Adanya puluhan lapak serabi ini juga bukan tanpa alasan. Selain lokasinya yang berada di jalur lintas provinsi, berbagai objek wisata yang berada di Kabupaten Semarang turut mendukung eksistensi serabi sekaligus menjadi pusat oleh-oleh.

Posisi Paguyuban UMKM Ngampin sendiri tepat berada di tengah-tengah menuju ke objek wisata Kopeng, Bandungan, Palagan Ambarawa, Waduk Rawa Pening, hingga wisata sejarah Benteng Pendem di Ambarawa.

“Disini ada kurang lebih 90-an pedagang, tapi yang aktif hanya 78. Serabi ini kan jajanan tradisonal, dimasak di atas tungku dengan kayu bakar, makanya rasanya khas campuran santan kelapa dan aroma pandan dengan harga Rp7 ribu per porsi,” ujar Bu Erna, selaku ketua paguyuban.

Didominasi kaum ibu-ibu rumah tangga, mereka membentuk satu kesatuan yang diketuai oleh Bu Erna. Selama puluhan tahun, mereka mencari nafkah dengan dagangan dan lokasi yang sama.

Sehingga untuk menjaga iklim persaingan usaha tidak kompetitif dan menjujung asas keadilan, setiap pedagang dibatasi berjualan maksimal 1 kilo pada hari biasa dan 1,5 kilo untuk akhir pekan dan hari libur. Uniknya agar aturan ini ditaati seluruh anggota, Bu Erna selaku ketua atas keputusan bersama, menyepakati adanya denda Rp200 ribu bagi siapa saja yang melanggar.

“Sekarang kami batasi untuk jualannya. Karena kalau tidak nanti ada yang laku ada yang tidak laku. Kan kasihan, jadi supaya persaingan disini sehat karena kita satu paguyuban,” tambahnya.

Meskipun diproduksi secara tradisonal, urusan transaksi hampir di setiap lapak kini telah menyediakan barcode QRIS BRI berkat adanya pendampingan dari BRI Kantor Wilayah (Kanwil) Semarang. Sentuhan digitalisasi lewat scan QRIS kini hadir di meja lapak untuk memastikan setiap pelancong yang singgah bisa menikmati kehangatan tradisi dipadukan dengan kemudahan teknologi masa kini.

Bersama para pedagang lainnya, Bu Erna mengaku sangat terbantu dengan hadirnya BRI membantu pengembangan UMKM Ngampil agar naik kelas. Dimana pendampingan ke arah digitalisasi melalui QRIS dari BRI sebagai sarana transaksi non-tunai adalah buktinya.

Diceritakannya sebelum kehadiran QRIS di tahun 2025, dirinya bersama pelaku UMKM yang lain seringkali kesulitan untuk mencarikan uang kembalian dari para pembeli. Sebab, harga satu porsi serabi yang cukup murah seharga Rp7 ribu, membuat para pedagang kesulitan menyediakan uang kecil untuk kembalian.

Meski demikian, tak semua pedagang bisa menggunakan transaksi non tunai melalui QRIS. Dominasi kaum hawa diatas usia 40 tahun yang ada didalam Paguyuban UMKM Ngampil, membuat para pedagang lebih memilih transaksi tunai yang sudah terbiasa.

“Alhamdulillah setelah adanya QRIS dari BRI, memudahkan kami dalam transaksi tanpa harus mencari uang kembalian. Selain itu juga menghindari kemungkinan peredaran uang palsu, karena sebelumnya pernah terjadi ditemukan uang palsu,” ungkap Bu Erna.

WAWANCARA: Ketua Paguyuban UMKM Ngampin, Bu Erna, saat melayani pertanyaan wartawan

Kesempatan terpisah, Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama mengatakan, kehadiran BRI ke UMKM Ngampin sebagai bukti keseriusan BRI dalam memberdayakan para pelaku usaha kecil agar tetap eksis dan berkembang.

Selain bantuan pendampingan, Pihkanya juga memberikan bantuan seperti tungku memasak, piringan untuk menyajikan serabi, poster, kaos, hingga pendampingan penggunaan transaksi digital melalui QRIS juga diberikan. Sehingga UMKM Ngampin bisa hight class dan go digital.

“Kami di BRI ada program pemberdayaan klaster usaha, yang kriterianya ada di satu tempat minimal ada 8 orang dengan usaha sama. Disana bahkan ada 92 anggota yang usahanya sama sebagai pengrajin serabi,” kata Eka Purnama, selaku Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang, Jumat 1 Mei 2026.

Perubahan tata kelola paguyuban dari yang sebelumnya kurang rapi menjadi tertata. Serta adanya QRIS yang memudahkan trasaksi non tunai, menjadi bukti kehadiran BRI di tengah-tengah masyarakat kecil, khususnya pelaku UMKM.

Adanya dukungan dari lembaga keuangan seperti BRI ini juga didukung oleh pakar ekonomi sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Ekobis) dari Universitas Safin Pati (USP) Dian Imami Mashuri, SE., MM.

Ia mengatakan Paguyuban UMKM Ngampin di Ambarawa ini sebagai bukti nyata kehadiran BRI untuk membantu pengembangan sektor ekonomi menengah kebawah agar naik kelas.

“Ini adalah pendorong atau stimulus biar UMKM tidak hanya fokus pada kapasitas produksi atau biar operasionalnya lancar. Tetapi lebih daripada itu, ini bisa mendukung agar UMKM disana bisa naik kelas,” kata dia saat dimintai keterangan wartawan.

Dari sudut pandang ekonom, Dian percaya pendampingan seperti yang dilakukan oleh BRI ini banyak membawa dampak positif. Jika tidak, persaingan dagang yang semakin ketat ditambah dengan digitalisasi dikhawatirkan akan membunuh para pelaku usaha kecil. (ARIF – Pojokutara.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *