
PATI, Pojokutara.com – Jauh dari hingar bingar kota, itulah yang dirasakan oleh masyarakat di Kecamatan Winong Kidul, Kabupaten Pati. Berada di kaki Pegunungan Kendeng, 20 kilometer jauhnya dari ibukota kabupaten, masyarakat hidup sederhana dengan mengandalkan sektor pertanian dan perdagangan.
Bagi masyarakat desa, melakukan transaksi keuangan di bank cukup sulit dilakukan karena jangkauannya yang jauh. Padahal, keberadaan bank sangat dibutuhkan oleh masyarakat, salah satunya untuk mengirim dan mengambil uang.
Sebelum berkembangnya transaksi perbankan, Fitri Nur (35) salah satu ibu rumah tangga dari mengaku kesulitan untuk mengambil uang kiriman dari sang suami yang bekerja di luar negeri.
“Kalau dulu di awal nikah, ambil uang kiriman suami harus ke bank dulu. Itupun adanya di kota. Jadi kalau mau ambil uang harus pergi dulu,” urainya, Kamis 4 Juni 2026.
Beruntung berkat adanya perkembangan Bank Rakyat Indonesia (BRI), kemudahan transaksi keuangan semakin dirasakan oleh masyarakat seiring dengan berkembangnya agen BRILink yang menjangkau setiap pelosok desa.
Fitri saat ini hanya datang ke toko dekat rumahnya ketika mengambil uang kiriman. Selain itu, dirinya juga mengaku mudah dalam melakukan berbagai pembayaran seperti listrik hingga Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari pemerintah.
” Jadi kini tak perlu jauh-jauh cukup lewat agen BRILink di warung sebelah rumah. Intinya bersyukur ada agen BRILink disini. Jadi semakin mudah untuk mengambil uang atau membayar iuran listrik,” tambahnya.
Sementara itu Meilisa, pemilik toko kelontong sekaligus agen BRILink mengaku mendapatkan keuntungan hingga ratusan ribu. Disamping bisa mendapat keuntungan, dirinya juga bersyukur bisa membantu tetangga yang membutuhkan transaksi keuangan.
“Saya mulai jadi agen BRILink sejak 2019 ditawari oleh Mantri. Alhamdulillah banyak keuntungan, selain itu juga bisa membantu tetangga yang mau ambil uang, transfer, atau membayar listrik,” sambung Lisa.

Terpisah, Wiwid seorang Mantri BRI yang membantu Lisa menjadi seorang agen BRILink menambahkan bahwa keberadaan agen ini sebagai terobosan baru dari BRI dalam membantu transaksi keuangan yang menjangkau seluruh pelosok desa.
“Ini kan suatu hal yang baru untuk masyarakat. Tidak perlu datang ke bank, bisa langsung ke agen dan dilayani dengan sepenuh hati,” tutup Wiwid.
Kemudahan transaksi keuangan ini dinilai positif oleh ekonomi Universitas Safin Pati (USP) Dian Imami Intoha, SE. MM. Ia mengatakan, perkembangan ekonomi memang harus diimbangi dengan kemajuan arus teknologi yang semakin memudahkan dan mendekatkan masyarakat dengan industri keuangan.
“BRILink memang sangat bermanfaat, masyarakat sangat terbantu karena tidak perlu pergi jauh. Cukup di toko kelontong dekat rumah, tranfer uang sudah bisa dilakukan,” ungkapnya.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperluas jangkauan layanan keuangan melalui jaringan BRILink Agen yang tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. Kehadiran BRILink Agen membuat layanan keuangan semakin dekat dengan aktivitas masyarakat.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan bahwa BRILink Agen menjadi kanal utama BRI dalam menjangkau kebutuhan transaksi masyarakat secara luas.
“BRILink Agen menjadi salah satu andalan BRI dalam menjangkau kebutuhan transaksi masyarakat di berbagai wilayah. Jaringan ini menghadirkan layanan yang mudah diakses oleh masyarakat dan mempercepat proses transaksi, sehingga aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. Peran tersebut menempatkan BRILink Agen sebagai penggerak ekonomi kerakyatan,” ungkapnya.
Dilansir Dari situs resmi BRI, hingga akhir Maret 2026, jumlah BRILink Agen telah mencapai lebih dari 1,18 juta agen yang tersebar di 66.450 desa atau lebih dari 80% total desa di Indonesia. Jangkauan tersebut memperkuat peran BRILink Agen sebagai jaringan layanan keuangan berbasis kemitraan di tingkat desa.
Sepanjang Triwulan I 2026, BRILink Agen pun mencatatkan volume transaksi mencapai Rp420 triliun. Aktivitas tersebut menegaskan peran BRILink Agen sebagai salah satu kanal utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan transaksi keuangan, serta turut berkontribusi terhadap fee based income (FBI) BRI yang mencapai Rp459 miliar. (ARIF – Pojokutara.com)





