Berjuang di Rumah Sakit, Kisah KUR Bantu Ibu Rumah Tangga Bangkitkan Ekonomi Keluarga

BERPOSE: Siti Maunah menunjukan produk olahan ikan miliknya

PATI, Pojokutara.com – Belasan tahun lalu tepatnya di tahun 2010, putri kecil dari Siti Maunah alias Bu Uun terbaling lemah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soewondo Pati. Sakit yang menerpa perlahan menghilang berkat pertolongan cepat dari dokter.

Di tengah masa pemulihan kondisi, sang anak memerlukan banyak omega yang terdapat pada ikan laut. Insting seorang ibu seketika muncul untuk membelikan masakan olahan ikan yang berada di kantin rumah sakit.

Bacaan Lainnya

Uun bercerita, saat itu harga satu prosi masakan ikan cukup mahal bagi masyarakat kelas menengah seperti dirinya. Memasak sendiri di rumah pun mustahil karena lokasi RSUD yang berada di pusat Kota Pati terlampau jauh dari kediaman Bu Uun di Desa Raci, Kecamatan Batangan.

Ia akhirnya memiliki ide cemerlang untuk mengolah ikan laut menjadi olahan makanan yang tahan lama dan cepat disajikan dan diberi nama Otak-otak Bandeng. Olahan makanan berbahan dasar ikan bandeng ini diolah dan diambil durinya untuk kemudian disimpan didalam lemari pendingin yang tahan selama 2 minggu.

“Awalnya itu saat anak saya sakit. Dokter menyarakan makan makanan ikan, tapi disana harganya mahal. Kemudian saya masak sendiri menjadi presto yang tahan lama dan mudah disajikan,” jelasnya, Jumat 29 Mei 2026.

Dari sana, untuk memenuhi kebutuhan keluarga ia bersama sang suami kemudian memulai memproduksi lebih banyak. Target market-nya pun sama, yaitu orang-orang sakit di rumah sakit yang memerlukan omega untuk mempercepat masa pemulihan.

Beberapa rumah sakit kemudian ditawari, mulai dari RS KSH, RS Mitra Bangsa, hingga RS Budi Agung. Bu Uun bercerita, hasilnya cukup lumayan dan permintaan terus berdatangan.

Untuk memenuhi permintaan pasar, ia kemudian memberanikan diri mengambil bantuan keuangan dari program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Mulai dari pinjaman Rp5 juta, Bu Uun bersama sang suami kemudian memperbanyak produksi dan mendaftarkannya ke sertifikat halal dan masuk dalam kategori Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Belum puas dan ingin terus naik kelas, Bu Uun kemudian meminjam lagi sampai Rp50 juta untuk mendirikan toko oleh-oleh khas daerah Pati yaitu Bandeng Presto dan Otak-otak Bandeng.

Lambat laun, usahanya kian moncer dan menjadi tujuan pusat oleh-oleh di wilayah Pati Timur. Kondisi ini didukung dengan posisi toko yang berada di pinggi Jalan Pantura Pati-Rembang yang sangat strategis untuk kemajuan sektor UMKM.

“Pertamanya Rp5 juta pas mulai merintis tahun 2010. Kemudian pernah ambil Rp25 juta sampai Rp 50 juta juga pernah. Untuk renovasi dan menambah rak-rak untuk dagang,” kata Bu Uun saat menceritakan bantuan permodalan yang ia dapat dari BRI.

Hingga kini di 2026, usahanya semakin maju. Tak hanya berhasil memperbaiki ekonomi keluarga. Bantuan keuangan dari BRI ini juga berhasil membuat Bu Uun memberdayakan tetangganya untuk membantu memproduksi aneka olahan ikan.

Dikreasikan oleh AI/Arif Febriyanto

Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama, menambahkan adanya bantuan pinjaman keuangan ini selaras dengan tujuan pemerintah dalam memberdayakan UMKM.

BRI sebagai perusahaan perbankan milik pemerintah, terus berkomitmen untuk memudahkan para pelaku UMKM untuk mengakses pinjaman KUR. Tentu saja, pinjaman ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh para debitur untuk meningkatkan kualitas produk.

“Jadi memang pinjaman KUR itu dikhususkan untuk para pelaku usaha diatas 6 bulan. Mulai dari yang paling kecil sampai Rp500 juta bisa mengajukan. Tentunya dari pihak bank juga akan mensurvei terlebih dahulu, bisa atau tidak suatu unit usaha kami kasih pinjam modal,” kata Eka.

Dekan Fakultas Ekonomi Bisis pada Universitas Safin Pati (USP), Dian Imami Intoha SE., MM, menyebut bantuan pinjaman keuangan yang diberikan oleh BRI kepada para pelaku usaha ini sebagai bentuk kehadiran negara dalam menopang ekonomi kerakyatan.

Secara spesifik, Dian mengatakan adanya inklusi keuangan ini dapat menjaga iklim ekonomi mikro tetap berjalan. Alhasil efektivitasnya di lapangan bisa dilihat dari semakin banyaknya para pelaku UMKM yang memanfaatkan pinjaman KUR dari BRI.

“Jadi ini memang cukup positif jika dilihat dari sisi ekonomi, yang mana kehadiran pinjaman keuangan menopang dan mempertahankan sektor ekonomi kecil,” ungkapnya. (ARIF – Pojokutara.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *