Kisah Sukses BUMDes Kencana Mandiri Desa Pekalongan, Memberdayakan Masyarakat hingga Cashless Payment

TRANSAKSI: Setyo Nugroho saat membayar lewat aplikasi BRIMO di BUMDes Kencana Mandiri Desa Pekalongan

PATI, Pojokutara.com – Di tengah menghilangnya program Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes, terdapat satu BUMDes di Kabupaten Pati yang masih eksis sampai saat ini bahkan terus berkembang dan bertransformasi ke arah digitalisasi.

Adalah BUMDes Kencana Mandiri, milik Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Satu hal yang membuat BUMDes ini masih terus eksis sampai saat ini adalah manajemen atau pengelolaan yang baik dari Pemerintah Desa (Pemdes) setempat.

Bumdes Kencana Mandiri Desa Pekalongan memiliki unit usaha pengelolaan air bersih, simpan pinjam, pengelolaan sampah, penyewaan, pelayanan barang dan jasa, termasuk Resto Kencana.

Anggoro Mustiko selaku Direktur Bumdes Kencana Mandiri menyampaikan bahwa Bumdes Pekalongan sudah beroperasi sejak 8 tahun yang lalu. Dikatakan bahwa tujuan mendirikan BUMDes tersebut sesuai dengan Permendesa nomer 4 tahun 2015. Dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian desa, meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolaannya potensi ekonomi desa.

“Bumdes Kencana Mandiri Desa Pekalongan ini awal berdirinya tahun 2015 sesuai perdes nomer 4 tahun 2015. Seiring berjalannya waktu, menyesuaikan adanya ketentuan peraturan baru Permendes, jadi secara legalitas Bumdes ini sudah resmi dan bisa beroperasi sesuai peraturan, tidak hanya sekedar formalitas”, ungkapnya, Sabtu 30 Mei 2026.

“Untuk saat ini pendapatan terbesar dari unit usaha pengelolaan sampah, pelanggan sebanyak 285, tidak hanya dari Wilayah Desa Pekalongan tetapi hingga desa-desa lain di kecamatan Winong, kecamatan Jakenan dan kecamatan Pucakwangi”, imbuhnya.

Menariknya, berbagai macam transaksi yang dilakukan seperti membayar tagihan air bersih, membayar listrik, membayar iuran sampah, hingga transaksi di Resto Kencana, bisa dilakukan secara non tunai atau payment cashless dengan QRIS BRI yang dipajang di depan meja kasir.

Disampaikan oleh Anggoro, adaya QRIS ini sangat membantu para pengunjung yang tidak membawa uang tunai. Maupun meminimalisir kemungkinan adanya peredaran uang palsu.

“Jadi memang mulai tahun lalu kita pasang QRIS. Pengunjung tinggal scan saja lewat aplikasi BRIMO dan transaksi sudah selesai tanpa repot membawa tunai,” jelasnya.

Kemudahan ini pun dirasakan oleh Setyo Nugroho, salah satu pengunjung yang memanfaatkan metode pembayaran non tunai dengan aplikasi BRIMO.

“Habis beli makanan, kebetulan tidak bawa uang tunai. Untungnya ada QRIS, jadi tinggal buka aplikasi BRIMO, scan lalu selesai. Semudah itu transaksi disini,” ungkap Setyo saat menceritakan pengalaman trasaksi non tunai di BUMDes Kencana Mandiri.

Sementara itu, Ukhwatur Roi kepala Desa Pekalongan mendukung penuh Bumdes Pekalongan dengan unit usaha yang ada. Di tengah tantangan kemajuan zaman yang terus maju pihaknya memiliki komitmen untuk membawa era digitalisasi dalam pelayanan publik di tingkat desa.

“Kita harus saling mendukung antara pihak pemerintah desa dan pengelola Bumdes supaya terjalin kerjasama sinergi yang baik untuk memajukan Bumdes”, tutup Kades.

Dikreasikan oleh AI/Arif Febriyanto

Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama, menambahkan adanya program yang bagus dari BUMDes ini bisa didorong untuk menjadi desa BRILian binaan dari BRI. Sehingga nantinya, BRI akan hadir memberikan sentuhan digitalisasi mulai dari pembayaran non tunai hingga pengembangan potensi UMKM lokal.

Selain keaktifan BUMDes, lanjut Eka, BRI juga tidak sembarangan dalam menentukan Desa BRILIan. Keaktifan dari masyarakat ditambah dengan keseriusan dari Pemdes untuk dibina juga menjadi pertimbangan lain untuk membantu ekonomi desa.

“Desa BRILian ini konsepnya kita survey dulu, programnya menyasar ke desa. Syaratnya harus memiliki BUMDes yang aktif, disana bisa melakukan transaksi melalui agen BRILink. Bisa tarik tunai, dan berbagai pembayaran non tunai bisa dilayani. Dan keuntungannya diberikan ke BUMDes,” kata Eka.

Adanya pertumbuhan ekonomi melalui BUMDes dan bantuan BRI ini juga disambut baik oleh ekonom dari Universitas Safin Pati (USP) Dian Imami Mashuri, SE., MM. Ia menilai cara ini sebagai cara lain bagi desa untuk menumbuhkan ekonomi desa dan pemberdayaan masyarakat lokal.

“Kalau untuk ekonomi ini menjadi penciptaan suatu nilai tambah, dimana potensi desa yang ada dikembangkan dengan bantuan BRI sebagai pihak ketiga,” ucap Dian.

Layanan transaksi non tunai yang disediakan oleh BUMDes juga sangat diapresiasi sebagai langkah kongkrit desa untuk mendekatkan dan mempermudah transaksi keuangan yang semakin modern ke arah digitalisasi perbankan. (ARIF – Pojokutara.con)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *