Kisah Sukses BUMDes Lopait Salatiga, Kelola Sampah hingga Hadirkan Mini Bank 

TRANSAKSI: Seorang warga memanfaatkan pembayaran non-tunai di BUMDes Lopait Salatiga

SALATIGA, Pojokutara.com – Sekitar 5 kilometer sebelum memasuki Kota Salatiga, terdapat sebuah desa kecil yang bernama Desa Lopati, Kecamatan Tuntang, Kota Salatiga. Desa ini berada di sebelah kiri jalan Bawen-Salatiga yang menghubungkan Semarang-Solo di Provinsi Jawa Tengah.

Desa ini memiliki empat (4) pedukuhan seperti Dukuh Lopait, Celengan, Gudang, dan Calombo. Pada 2019, masing-masing pedukuhan dibawah kepala desa sepakat untuk membentuk suatu badan usaha yang diberi nama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Mandiri Sejahtera.

Di tengah gemericik air sungai yang masih jernih, luasnya Waduk Rawa Pening, ditambah dengan hijaunya hamparan sawah dan rimbunnya pepohonan, Pemerintah Desa (Pemdes) mulai bertransformasi menuju ke arah digital yang dikelola BUMDes.

Meskipun posisi desa secara geografis berada di tengah-tengah antara dua kota besar di Jawa Tengah, layanan kemudahan transaksi keuangan tentu sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani padi di sawah.

Era digitalisasi yang semakin kencang membuat masyarakat petani seringkali mengalami kesulitan dalam menyesuaikan keadaan. Disinilah Pemdes melalui BUMDes bekerjasama dengan BRI Kantor Wilayah (Kanwil) Semarang, hadir untuk mempermudah dan mendekatkan transaksi keuangan secara non tunai tanpa harus datang ke kota.

Yamsiha selaku Plt Direktur BUMDes Lopait menjelaskan, kehadiran BRI di tahun 2024 lewat program BRILink ini mempermudah transaksi keuangan masyarakat desa agar lebih dekat tak perlu jauh-jauh bepergian ke kota.

Alhasil, sejumlah pembayaran non tunai atau e-payment bisa dilayani dari dalam desa. Mulai dari pembayaraan pajak kendaraan, pajak bumi dan bangunan, setor dan tarik tunai, hingga pembayaran langganan internet wifi.

“Untuk e-payment kami bekerjasama dengan BRILink. Sebelum adanya BRILink itu kami kurang maksimal dan setelahnya alhamdulillah sangat membantu kami dan semakin dipercaya masyarakat untuk tarik tunai, transfer, pembayaran pajak tanah, hingga pajak kendaraan,” kata Yamsiha.

BUMDes juga terus berkembang dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Selain adanya program internet masuk kampung, BUMDes juga menyediakan jasa pengangkutan sampah bagi masyarakat. Program ini ditujukan kepada masyarakat yang tidak memiliki cukup lahan untuk mengurai sampah agar tidak semakin menggunung.

Tak hanya itu saja, untuk semakin menambah Pendapatan Aset Desa atau PADes, Gedung Serba Guna atau GSG yang berdampingan dengan kantor desa juga disewakan untuk berbagai kegiatan masyarakat.

“Kepala desa memberikan kepercayan kepada kami untuk mengelola internet desa secara e-payment. Desa juga percaya kepada kami untuk mengelola pengambilan sampah. Ada juga persewaan gedung,” tambahnya.

Tidak hanya soal e-payment, BUMDes bersama BRI juga turut dalam pengembangan potensi UMKM lokal yaitu jamu tradisional. Pasalnya, selain bekerja sebagai petani, masyarakat desa khususnya perempuan bekerja di sektor industri jamu yang masih dilakukan secara tradisional.

Hasilnya pun luar biasa, di tahun 2025 berkat pendampingan BRI melalui program Desa BRILian, Desa Lopait terpilih sebagai juara 3 tingkat nasional sebagai bukti kesuksesan BRI dalam membina UMKM lokal dan masyarakat desa.

“Jamu ini hampir satu dusun bekerja sebagai tukang jamu, ada yang gendong ada yang pakai sepeda dan ada yang pakai motor, mereka berkeliling ke desa-desa. Alhamdulillah kami masuk nominasi Desa BRILian dari BRI dengan bantuan uang pembinaan Rp 10 juta, dan itu sangat luar biasa,” lanjutnya.

Sehingga sebagai bentuk kepercayaan Pemdes kepada BUMDes, kata Yamsiha, setiap tahunnya BUMDes mengadakan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) yang dituangkan dalam berita acara. Sehingga apa yang tercatat dalam BUMDes bisa dipertanggungjawabkan oleh para pengurus.

PEMBAYARAN: Seorang warga sedang menikmati layanan BRILink di BUMDes Lopait

Keberadaan BUMDes ini tentunya tak bisa dilepaskan dari peranan Kepala Desa (Kades) Lopait, Budiyono. Ia yang sudah tiga (3) periode terpilih menjabat sebagai orang nomor satu di kampung, memang sejak awal bercita-cita ingin membawa kemajuan bagi masyarakat desa. Dimana salah satunya ia wujudkan melalui pemberdayaan BUMDes.

“Jadi di awal saya memang bertekad punya cita-cita kalau sudah pensiun nanti saya punya tinggalan disini. Alhamdulillah ini di tahun terakhir saya menjabat, des aini sudah semakin berkembang melalui BUMDes dan juga pembinaan dari BRI,” kata Kades Budiyono.

Asisten Manager Departemen Ultra Mikro BRI Kanwil Semarang Eka Purnama menceritakan, dipilihnya Desa Lopait sebagai salah satu desa binaan BRI melalui program Desa BRILian ini salah satunya juga adanya BUMDes Karya Mandiri Sejahtera yang aktif beroperasi. Dari sini kemudian, BRI hadir memberikan sentuhan digitalisasi mulai dari pembayaran non tunai hingga pengembangan potensi UMKM lokal seperti jamu.

Selain keaktifan BUMDes, lanjut Eka, BRI juga tidak sembarangan dalam menentukan Desa BRILIan. Keaktifan dari masyarakat ditambah dengan keseriusan dari Pemdes untuk dibina juga menjadi pertimbangan lain untuk membantu ekonomi desa.

“Desa BRILian ini konsepnya kita survey dulu, programnya menyasar ke desa. Syaratnya harus memiliki BUMDes yang aktif, disana bisa melakukan transaksi melalui agen BRILink. Bisa tarik tunai, dan berbagai pembayaran non tunai bisa dilayani. Dan keuntunganya diberikan ke BUMDes,” kata Eka.

Adanya pertumbuhan ekonomi melalui BUMDes dan bantuan BRI ini juga disambut baik oleh ekonom dari Universitas Safin Pati (USP) Dian Imami Mashuri, SE., MM. Ia menilai cara ini sebagai cara lain bagi desa untuk menumbuhkan ekonomi desa dan pemberdayaan masyarakat lokal.

“Kalau untuk ekonomi ini menjadi penciptaan suatu nilai tambah, dimana potensi desa yang ada dikembangkan dengan bantuan BRI sebagai pihak ketiga,” ucap Dian.

Layanan transaksi non tunai yang disediakan oleh BUMDes juga sangat diapresiasi sebagai langkah kongkrit desa untuk mendekatkan dan mempermudah transaksi keuangan yang semakin modern kea rah digitalisasi perbankan. (ARIF – Pojokutara.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *