Mulai dari Rp25 Juta, Suami-Istri Ini Berdayakan Belasan Karyawan hingga Punya Showroom Batik

BELAJAR: Seorang pelajar sedang mengamati pembatik di wisata batik Yuliatiwarno, Desa Langgenharjo

PATI, Pojokutara.com – Jalan-jalan ke Kabupaten Pati rasanya tak lengkap kalau tidak membawa buah tangan Batik Bakaran khas dari Kecamatan Juwana. Salah satu yang perlu dikunjungi adalah showroom Batik Yuliatiwarno milik Tamzis Al Anas, yang berada di Desa Langgeharjo.

Setiap hariya, belasan tangan-tangan terampil menggoreskan canting panas ke sebuah kain dengan pola-pola yang sudah dirancang sebelumnya, menghasilkan batik tulis khas Pati.

Beroprasi sejak tahun 2011, Tamzis memulai usaha batik bersama sang istri Yuliati yang diabadaikan menjadi nama produknya. Hasilnya, batik produksinya semakin eksis berkat kerjasama yang kompak antara suami dan istri.

Selain menjual kain-kain batik, Yulaitiwarno juga menawarkan pelatihan membatik dan terbuka untuk umum bagi siapa saja yang ingin menekuni proses membatik. Hasilnya, saat ini Yulatiwarno tak hanya berjaualan batik, tetapi membuka kelas dan wisada edukasi membatik.

Dirinya mulai membuka wisata edukasi batik dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat dan juga generasi milenial agar mengetahui tentang batik yang merupakan warisan budaya milik Indonesia.

“Yuliatiwarno menawarkan edukasi untuk memperluas wawasan seputar dunia batik, termasuk praktik membatik. Wisatawan akan diajarkan membuat batik mulai dari peoses membuat pola motif, proses mencanting, mewarnai, pelorotan hingga menghasikkan sebuah kain batik yang mereka buat. Biasanya, karya yang sudah dibuat tersebut bisa untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh,” ungkap Tamzis, Kamis 11 Juni 2026.

Tamzis menceritakan, usahanya ini sempat menghadapi tantangan tak kala pandemi covid-19 melanda di tahun 2020 lalu. Pembatasan mobilitas masyarakat mengakibatkan kunjungan ke Showroom Batik menurun drastis.

“Saat covid memang menjadi tantangan kami, penjaualan turun omset turun. Tapi yang namanya usaha memang seperti itu kadang naik kadang turun, dinikmati saja,” tegasnya.

Di tengah omset yang menurun, Tamzis harus menghadapi tantangan persaingan bisnis industri batik yang semakin menjamur di wilayah Juwana. Namun, Tamzis tak kehabisan akal. Ia memberanikan diri mengambil modal lewat modal Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI cabang Juwana.

Mulai dari Rp25 juta untuk menambah jumlah produksi, ia bersama sang istri kemudian sepakat menambah jumlah pinjaman untuk membeli peralatan membatik dan memperluas pasar. Hasilnya, Yuliatiwarno kini tak hanya menjadi pengrajin batik dan toko batik biasa. Lebih daripada itu Yulatiwarno kini menjadi tujuan wisata edukasi yang memberdayakan belasan warga lokal.

“Dulu memang sempat ambil KUR BRI untuk menambah modal usaha. Ya untuk produksi, membeli peralatan, dan marketing karena semuanya kan perlu modal,” imbuh Tamzis.

Dikreasikan oleh AI/Arif Febriyanto

Kepala TK Al Fattah Wedarijaksa Alimah, yang saat itu sedang mendampingi anak-anak outing class ke wisata batik menceritakan pengalaman berharga anak-anak saat diajak belajar membatik yang merupakan warisan budaya nusantara.

“Kami perkenalkan anak-anak tentag batik dan cara membuat batik langsung pada kain batik yang didampingi pekerja yang sudah mahir. Edukasinya bagus sekali karena disini sudah terkenal dan banyak lembaga pendidikan yang datang berwisata kesini,” ungkap Alimah.

Sementara itu Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pati Rekso Suhartono, mengakui jika Batik Yuliatiwarno merupakan satu wisata edukasi terbaik yang saat ini dimiliki Kabupaten Pati.

Sebagai bentuk dukungan pemerintah, seringkali diadakan festival membatik dengan bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan swasta lainnya untuk mendongkrak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dengan mambatik.

“Jadi memang kami di wilayah Juwana itu memiliki beberapa industri batik. Tetapi yang terkenal selain di Bakaran itu ada di Langgen milik mas Tamzis. Disana kan menawarkan wisata edukasi membatik untuk anak-anak sekolah. Jadi ini harus kita dukung untuk memperkenalkan batik kepada anak-anak dan juga mendukung outing class di daerah Pati sendiri,” kata Rekso. (ARIF – Pojokutara.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *