
PATI, Pojokutara.com – Selama bertahun-tahun, Juriyanto (35) warga Desa Ngemplak Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati hidup dalam bayang-bayang serba terbatas. Bagaimana tidak, ia tinggal di sebuah kontrakan kecil bersama anak istri yang setia mendampingi.
Setiap harinya, pendapatan Juri yang bekerja sebagai loper koran hanya cukup untuk makan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bahkan tak jarang ia meminjam uang dari sanak saudara untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Saya sejak menikah tahun 2019 itu bekerja sebagai loper koran. Tau sendirilah gajinya berapa, hanya cukup untuk makan sama bayar kontrakan,” kata Juri saat menceritakan perjalanan hidupnya, Jumat 12 Juni 2026.
Namun ia tak patah semangat, dengan bantuan sedikit modal dari sang mertua, Juri kemudian memiliki sebuah loss kecil di pasar untuk berdagang kelapa. Dalam mengelola manajemen usahanya, pada tahun 2022 ia kemudian memberanikan diri menambah modal lewat Kredit Usaha Rakyat dari BRI.
Berawal dari modal super mikro di angka Rp10 juta, bisnis usaha kelapa mulai ia geluti disamping pekerjaan utamanya sebagai loper. Bagaimana tidak, disaat teman-temanya masih terlelap, sekitar pukul 05.00 WIB ia harus berangkat ke kota mengantarkan koran ke kantor-kantor pemerintah.
Sementara sang istri memulai membuka loss kelapa di pasar, sang buah hati yang masih balita dititpkan kepada mertuaya. Sepulangnya mengatar koran, Juri kemudia membantu istri berjualan kelapa di pasar.
“Saat itu mertua mungkin kasihan sama anaknya dan saya, karena masih ngontrak dan hidup seadanya. Lalu istri saya dibelikan loss untuk usaha kelapa. Namanya usaha kan pasti perlu modal banyak ya. Saya kemudian ambil KUR BRI untuk menambah modal. Awal-awal itu dulu Rp10 juta, terus ambil lagi Rp25 juta atau berapa saya lupa,” imbuh dia.
Juri adalah orang yang tak pantang menyerah dan patut dijadikan percontohan sebagai kepala rumah tangga yang bertanggungjawab. Tahun berganti tahun, bulan berganti bulan. Kegigihannya untuk memiliki hunian sediri akhirnya terwujud di tahun 2025.
Tentu saja berkat usahanya berjualan kelapa di pasar, support sang istri, dan juga dukungan dari orantua yang mewarisi sebidang tanah pekarangan.
“Namanya rumah tangga kan harus ada rumahnya ya. Tidak mungkin juga kami selamanya ngontrak, akhirnya ada sedikit rezeki kami nekat membagun rumah sendiri,” tegasnya.
Kisah perjalanan Juriyanto dan keluarga dari hidup sederhana yang kemudian bangkit dengan membuka usaha, ditambah bantuan permodalan KUR BRI menjadi bukti bahwa perubahan taraf hidup sangat mugkin dilakukan dengan tekat dan kerja keras.

Dari kisah ini, ahli ekonomi dari Universitas Safin Pati (USP), Dian Imami Intiha SE. MM., sangat mengapresiasi adanya perubahan taraf ekonomi yang terjadi pada Juriyanto. Tentu saja, kata dia, peningkatan kehidupan sosial ekonomi seseorang bisa sangat terjadi apabila ada kemauan dari individu yang bersangkutan.
Dalam kasus ini ia juga menyebut bantuan keuangan dan permodalan dari KUR BRI yang dimanfaatkakn untuk mengembangkan usaha juga tak kalah penting sebagai bagian dari kisah perjalanan Juriyanto yang kini berhasil memiliki hunian sendiri.
“Tentu saja ini menjadi sinyal positif kebangkitan ekonomi suatu keluarga. Dimana ada kemauan ditambah dengan modal, maka disitu ada peluang untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana apa yang diinginkan,” ungkapnya.
Dilansir dari situs resmi BRI, Penguatan fondasi ekonomi kerakyatan menjadi fokus PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dalam menyalurkan pembiayaan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Upaya ini diwujudkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tidak hanya berfokus pada akses permodalan, tetapi juga pada pengembangan sektor produktif, khususnya pertanian, guna mendorong peningkatan kapasitas usaha dan kesejahteraan masyarakat.
Secara kinerja, hingga April 2026 BRI berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp65,95 triliun kepada sekitar 1,3 juta debitur di seluruh Indonesia. Mayoritas penyaluran tersebut diarahkan ke sektor produksi, meliputi pertanian, perikanan, dan industri pengolahan, dengan porsi mencapai 66,47%.
Dari total tersebut, sektor pertanian menjadi kontributor terbesar dengan penyaluran mencapai Rp27,95 triliun atau setara 42,38%. Capaian ini tidak hanya menunjukkan peran dominan sektor pertanian dalam portofolio KUR BRI, tetapi juga mempertegas posisi Perseroan, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan bahwa sebagai penyalur KUR terbesar di Indonesia, BRI terus memperkuat kontribusinya terhadap program Asta Cita ke-2 Pemerintah, yakni kemandirian bangsa melalui swasembada pangan. Adapun, dalam empat bulan pertama tahun 2026, penyaluran KUR BRI telah menjangkau 558 ribu petani dan 23 ribu nelayan.
“KUR merupakan instrumen pembiayaan BRI dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif. BRI pun senantiasa menyalurkan KUR dengan memperluas akses permodalan, yang tidak hanya berdampak pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas usaha serta perputaran ekonomi di berbagai wilayah,” ujar Akhmad.
Dalam implementasinya, Akhmad menyatakan bahwa BRI terus menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mengedepankan aspek transparansi dan akuntabilitas. Hal ini penting mengingat KUR sepenuhnya bersumber dari dana perbankan yang berasal dari penghimpunan dana masyarakat, sehingga kualitas kredit harus tetap terjaga. (ARIF – Pojokutara.com)



