Minggu, 02 Agu 2026

Siswa Mts Islam Wangunrejo Pati Diduga jadi Korban Bullying, Ini Keterangan Saudara Korban

waktu baca 3 menit
Minggu, 2 Agu 2026 09:53 17 Admin

PATI, Pojokutara.com – Sahlatina, kakak sepupu korban yang mengalami patah jari di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Islam Wangunrejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati mengungkap kronologi sebenarnya berdasarkan saksi dan korban. Ia membuka ke publik bahwa sang adik, berinisial A diganggu tiga orang kakak kelas sewaktu acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin, 27 Juli 2026 lalu.

Sang adik yang masih duduk di bangku kelas VII dikeroyok oleh tiga siswa kelas IX. Kejadian berlangsung di dalam kelas hingga ke kamar mandi madrasah.

“D tiba-tiba menyerang dengan dua temannya mengeroyok A. Sempat diselamatkan teman lainnya, tetapi tiga orang (termasuk D) masih ngejar dan memukuli A di dalam kelas. D meninjau kepala belakang A paling keras,” ungkap kakak sepupu A, Sabtu, 1 Agustus 2026 malam.

Beberapa kali korban dipukuli dengan tangan kosong maupun dengan alat tumpul. Organ-organ badannya banyak yang memar. Parahnya jari korban sampai putus karena perlakuan tidak mengenakkan dari para ketiga pelaku.

“Diseret ke kamar mandi, pintu ditutup. Lalu minta maaf, sudah dimaafkan. Habis itu adik saya mau keluar. Pas di kamar mandi adik saya dijotos lagi, dipukul pakai penggaris,” ujar Sahlatina.

Setelah itu, A yang merupakan korban bully sempat disiram menggunakan air dari ember oleh D dan kawan-kawan di kamar mandi. Dihadang sehingga sulit keluar, A kabur lewat pagar besi. Saat melalui pagar tersebut jarinya terjepit sampai berdarah-darah.

“Jalan satu-satunya naik pagar, pagarnya besi. Manjat posisinya di atas, adik saya disiram air pelaku dari ember, udah manjat masih disiram. Tangan adik saya kejepit pagar, adik saya setengah sadar mau pingsan, adik saya jatuh,” bebernya.

Jari pada tangan kirinya pun patah karena terjepit. Kemudian, ia lapor ke guru. Guru malah memarahi korban.

“Tangannya patah waktu itu mati rasa, sehabis satu menit merasa sakit, adik saya menjerit. Jarinya putus di lokasi satu jari, yang satunya retak. Adik saya pas minta tolong ke kantor malah dimarahi guru Pak Fathoni,” jelasnya.

Guru langsung membawa A ke Rumah Sakit (RS) Keluarga Sehat Hospital (KSH). Namun, pihak madrasah berupaya menyembunyikan barang bukti dengan mengubur potongan jari A.

“Bu Dian (salah satu guru) takut ketika keluarga tahu jarinya patah bilang sama Pak Shofi’i (kepala madrasah), agar jarinya disuruh kubur aja. Dikuburlah jarinya saat adik saya dibawa ke KSH,” ucapnya.

Saat dirawat di RS KSH, A mau bercerita secara untuk kepada pihak keluarga. Bahkan keterangan ini digunakan sang kakak untuk menyampaikan informasi kepada publik.

“Di KSH jam 5 baru berani bilang. Sebelumnya takut di mobil, karena pelaku meminta jangan bilang-bilang,” katanya.

Usai pihak keluarga mengetahui hari A dikubur, sang ibu meminta agar pihak madrasah dan pemerintah desa (pemdes) mengambilkan potongan jari telunjuk milik A yang parah.

Pihak keluarga A langsung melaporkan kejadian itu ke polisi usai melakukan visum di rumah sakit. Pihaknya tak mau ada jalan damai atas peristiwa atas pembullyan ini.

“Lapor polisi di jam 9 atau setengah 10 di hari Senin, karena kami rembukan dulu soalnya pelaku di bawah umur. Ndak mungkin damai, kami meminta surat visum ke pihak KSH, kemudian melapor ke polsek dan polres,” paparnya.

Sejauh ini belum ada permintaan maaf dari pihak madrasah dan pihak keluarga pelaku. Keluarga A pun meminta keadilan agar pelaku diproses hukum.

“Saya cuma minta keadilan, pelaku diproses hukum tinggal nunggu sidangnya. Keluarga D (pelaku) sempat ke sekolahan memediasi, tapi pihak kami langsung ke polres,” ujarnya.

Menurut kesaksian, D merupakan siswa yang nakal. Ia kerap melakukan aksi bully kepada teman sebaya di madrasah. Namun, pihak MTs Islam Wangunrejo selalu menyelesaikan masalah internal tanpa campur tangan orang tua siswa.

“Tiga orang ini kayak gangster cari muka, jotosi, mengeroyok, sudah bolak-balik melakukan. Kalau ada masalah di sekolah pihak guru meminta agar selesai di sekolah saja,” pungkasnya. (RED – Pojokutara.com)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA